Sabtu, 18 Mei 2013

SOSOK KAKAK


Saya punya kakak yang bernama Annisa yang biasa dipanggil Mba Icha. Jarak umur saya dengan dia hanya beda 2 tahun. Saya sangat dekat dengannya, apapun yang kita alami pasti kita saling berbagi cerita. Mba icha itu kakak yang paling baik menurut saya, nasihat-nasihat dia selalu saya terima dengan baik. Lulus SMA kakak saya bekerja di suatu PT, saya merasakan kehilangan dia karena kesibukan dia yang sedang bekerja. Walaupun ia sibuk, ia tetap meluangkan waktunya untuk cerita dan berbagi pengalaman ke saya tentang kerjaannya di kantor.  Sehabis gajian ia selalu mengajak saya jalan-jalan dan membelikan apa yang saya inginkan. Ia juga membelikan untuk orang tua dan adik-adik saya.
Setahun Mba Icha bekerja, ia memutuskan untuk menikah. Saya masih merasakan dekat dengannya, saya masih sering bercerita apapun dan ia menceritakan ketegangan karena mau menikah. Saat malam harinya saya merasakan sedih karena ia mau menikah, entah kenapa saya sedih padahal seharusnya saya senang. Saat hari pernikahannya saya merasa senang melihat ia tersenyum bahagia di atas pelaminan. Keesokan harinya ia pamit bersama suaminya untuk tinggal dirumah barunya. Disini saya tidak bisa menahan air mata, saya menangis melihat Mba Icha pergi dengan suaminya. Saya tidak berani menatap ia waktu ia pergi dari rumah, saya hanya diam dikamar.
            Setelah beberapa hari saya baru menyadari mengapa saya sedih, saya sangat merasakan kehilangan sosok seorang kakak yang selalu membela, menasehati, melindungi dan temen cerita saya. Semenjak itu, saya selalu menerapkan itu ke adik-adik saya dan sekarang saya lah yang menjadi kakak yang paling tua di keluarga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar